Saturday, May 14, 2011

Kekuatan Jaringan Sosial dan Revolusi Politik





Media sosial adalah sebuah alat revolusi, bukan revolusi itu sendiri. Ini merupakan cara murah dan cepat untuk menyebarkan pesan-pesan Anda ke sekelompok besar orang yang simpatik terhadap perkara Anda ~ Gwen M.

Media sosial khususnya Facebook dan Twitter ditengarai memiliki peran penting dalam gerakan revolusioner di Mesir dan Tunisia yang sukses awal tahun ini. Kedua situs jejaring sosial terpopuler ini berperan dalam menyebarkan informasi dan membantu para organisator merencanakan aksi protes mereka. Dipelopori para aktivis kaum muda, berpendidikan, dan melek Internet (serta menganggur), mereka menggunakan teknologi sosial untuk membantu memobilisasi massa dalam menggulingkan rezim-rezim lama dan tidak lagi cocok untuk membangun pemerintahan demokrasi baru.

Rezim di Tunisia dan Mesir yang menderita defisit legitimasi mendalam selama beberapa dekade, mempertunjukkan protes-protes massa secara berkala sebelumnya. Kali ini media sosial menciptakan titik ungkit di Tunisia, keberhasilan pemberontakan Tunisia menginspirasi masyarakat Mesir yang telah menyiapkan strategi perlawanan selama berbulan-bulan. Di Mesir, para aktivis dan kubu oposisi dengan mudah memobilisasi massa dan mengkoordinasikan gerakan unjuk rasa melalui Facebook dan Twitter. Jaringan sosial bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar ke seluruh dunia melalui YouTube dan Blog. Dengan sangat cepat ratusan ribu kaum muda di negeri Piramida itu mengakses grup-grup yang ada di media sosial tersebut. 

Peristiwa di Mesir dan Tunisia bukan pertama kalinya dimana media sosial mengambil peranan. Pada 17 Januari 2001, selama persidangan pemakzulan Presiden Filipina Joseph Estrada, para loyalis di Kongres Filipina memilih untuk mengesampingkan bukti-bukti kunci terhadap Estrada. Hanya kurang dari dua jam setelah keputusan tersebut diumumkan, ribuan warga Filipina yang marah karena presiden korup mereka lepas dari jeratan, berkumpul di Epifanio de los Santos Avenue, sebuah persimpangan jalan utama di Manila. Protes disusun melalui pesan teks yang diteruskan berbunyi, "Go 2 EDSA Wear Blk." Orang-orang (banyak) dengan cepat membengkak, dan dalam beberapa hari selanjutnya, lebih dari satu juta orang hadir, menyendat lalu lintas di pusat kota Manila.

Kemampuan masyarakat untuk mengkoordinasikan respon secara besar-besaran dan cepat - hampir tujuh juta pesan teks terkirim pada minggu itu – menggusarkan para legislator negara sehingga mereka berbalik arah dan mengijinkan bukti-bukti untuk disajikan. Nasib Estrada tersegel, karena ia mengungsi pada 20 Januari. Kejadian ini menandai pertama kalinya media sosial membantu memaksa keluar seorang pemimpin nasional. Estrada sendiri menyalahkan "pembangkitan pesan-teks" untuk kejatuhannya.

Sejak munculnya Internet di awal 1990-an, populasi jaringan dunia telah berkembang dari jutaan hingga  miliaran. Selama periode ini, media sosial telah menjadi kenyataan hidup bagi masyarakat sipil di seluruh dunia, melibatkan banyak pelaku: warga biasa, para aktivis, organisasi nonpemerintah, perusahaan telekomunikasi, penyedia perangkat lunak (software), dan pemerintah.

Sebagai lanskap komunikasi yang lebih padat, lebih kompleks, dan lebih partisipatif, populasi jaringan memperoleh akses lebih besar ke informasi, lebih banyak peluang untuk terlibat dalam ceramah-ceramah publik, dan sebuah kemampuan yang ditingkatkan untuk melakukan tindakan kolektif. Dalam arena politik, seperti protes di Manila menunjukkan, kebebasan-kebebasan yang meningkat itu dapat membantu perubahan tuntutan publik yang terkoordinasi dengan bebas.

Orang-orang dengan keluhan akan selalu menemukan cara untuk berkomunikasi satu sama lain. Pada akhirnya, bagaimana mereka memilih cara untuk melakukannya menjadi kajian menarik, disamping motivasi-motivasi utama yang mendorong mereka untuk melakukannya.

Peran Media Dalam Revolusi

Sebuah revolusi hadir sebagai tuntutan perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya. Artinya, sebuah revolusi akan berhasil bila ditunjang oleh sejumlah faktor yang harus hadir secara bersama-sama.

Setiap revolusi tentu memiliki cara dan akar permasalahan yang berbeda-beda. Namun, dalam prosesnya terdapat beberapa faktor penyebab seperti penindasan oleh rezim otoriter, tingginya tingkat korupsi, angka kemiskinan dan pengangguran, serta berbagai ketidakadilan yang diterima oleh masyarakat hampir selalu menjadi pemicu utama terjadinya protes-protes umum, berkelanjutan, hingga mencapai klimaknya: gerakan menggulingkan pemerintah yang berkuasa.

Seperti halnya gelombang revolusi yang terjadi di Timur Tengah baru-baru ini, memiliki kemiripan mencolok dengan badai revolusi politik sebelumnya. Naiknya harga pangan dan pengangguran yang tinggi di Eropa pada 1848 telah memicu protes-protes umum dari Maroko hingga Oman. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Eropa Timur ini berusaha untuk menggulingkan monarki tradisional. Revolusi di Uni Soviet tahun 1989 lebih ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan komunis. Sedangkan faktor frustrasi dengan sistem politik tertutup, korup, dan tidak responsif telah menyebabkan pembelotan di antara elit dan jatuhnya rezim berkuasa di Tunisia, Mesir, dan (mungkin) Libya.
 
Revolusi ada jauh sebelum Internet lahir. Penggunaan media sebagai sarana atau saluran komunikasi politik dalam revolusi berbanding lurus dengan sejarah perkembangan media itu sendiri. Pada tahun 1500-an Martin Luther mengadopsi mesin percetakan yang praktis baru untuk memprotes Gereja Katolik Roma, sehingga berhasil melakukan reformasi. Kaum revolusioner Amerika menyinkronkan keyakinan mereka menggunakan layanan pos yang dirancang oleh Benjamin Franklin. Di Jerman Timur, gerakan memobilisasi sekitar 70 ribu massa untuk melakukan demonstrasi besar-besaran di Leipzig pada 9 Oktober 1989 (tepat satu bulan sebelum Tembok Berlin runtuh) dibantu oleh media cetak dan elektronik. Mereka berhasil menggulingkan rezim yang kita pikir akan bertahan hingga ratusan tahun.

Gerakan pembangkang sekarang ini akan menggunakan segala cara untuk membingkai pandangan mereka dan mengkoordinasikan tindakan mereka. Seperti peran penting media sosial dalam Revolusi Tunisia dan Mesir dalam menyebarkan informasi dan membantu para organisator merencanakan protes. Mustahil juga untuk menggambarkan kekalahan Partai Komunis Moldovan dari Parlemen setelah Pemilu 2009 tanpa membahas penggunaan ponsel dan alat-alat online oleh lawan-lawannya untuk memobilisasi

Strategi Filipina sendiri telah diadopsi berkali-kali setelah itu. Dalam beberapa kasus, para pengunjuk rasa akhirnya berhasil, seperti di Spanyol pada 2004, ketika demonstrasi yang diorganisir oleh pesan teks menyebabkan pengusiran cepat Perdana Menteri Spanyol José María Aznar. Partai Komunis kehilangan kekuasaan di Moldova pada tahun 2009 ketika protes besar-besaran yang dikoordinasikan oleh pesan teks, Facebook, dan Twitter pecah setelah pemilu curang. Di seluruh dunia, Gereja Katolik telah menghadapi tuntutan hukum atas tindakannya melindungi pemerkosa anak, sebuah proses yang dimulai ketika liputan The Boston Globe pada 2002 tentang pelecehan seksual di gereja menyebar secara online dalam hitungan jam.

Meskipun, ada juga beberapa contoh para aktivis gagal, seperti di Belarus pada Maret 2006, ketika para pemrotes jalanan (diorganisir melalui e-mail) melawan pemilihan Presiden Aleksandr Lukashenko yang diduga keras hasilnya dibengkakkan. Selama pemberontakan Gerakan Hijau di Iran pada Juni 2009, para aktivis menggunakan setiap alat yang memungkinkan mengkoordinasikan secara teknologi untuk memprotes kesalahan hitung suara bagi Mir Hossein Mousavi, tetapi akhirnya menyerah karena tindakan kekerasan yang kejam. Pemberontakan Kaos Merah di Thailand pada 2010 pun mengikuti jalan sama namun lebih cepat: kecerdasan para pemrotes dengan media sosial menduduki pusat kota Bangkok sampai pemerintah Thailand membubarkan para pengunjuk rasa, yang menewaskan puluhan orang.

Analisis Jaringan Sosial

Meningkatnya popularitas layanan jejaring sosial online telah mendorong penelitian ke karakteristik-karakterisknya dan merambah ke karakteristik di luar data yang merayap. Analisis jaringan sosial (terkait dengan teori jaringan) muncul sebagai teknik utama dalam sosiologi modern, sebagai alat untuk menghubungkan tingkat mikro dan makro teori-teori sosiologis. Analisis jaringan untuk melihat sejauh mana struktur dan komposisi ikatan mempengaruhi norma-norma.

Jaringan sosial juga telah digunakan untuk menguji bagaimana organisasi berinteraksi satu sama lain, menggambarkan koneksi informal yang banyak yang menghubungan para eksekutif secara bersama-sama, serta asosiasi dan koneksi antara karyawan secara individu pada organisasi-organisasi yang berbeda. Misalnya, kekuatan dalam organisasi sering hadir melebihi dari tingkatan individu dalam suatu jaringan yaitu pada pusat dari banyak hubungan daripada jabatan yang sebenarnya. Jaringan sosial juga memainkan peran kunci dalam perekrutan, dalam kesuksesan bisnis, dan dalam kinerja pekerjaan. Jaringan menyediakan cara bagi perusahaan untuk mengumpulkan informasi, menghalangi kompetisi, dan berkolusi dalam menetapkan harga atau kebijakan.

Wikipedia menterjemahkan jaringan sosial sebagai struktur sosial yang terdiri dari individu (atau organisasi) yang disebut node, yang terikat (terhubung) oleh satu atau lebih jenis saling ketergantungan tertentu, seperti pertemanan, kekerabatan, kepentingan bersama, pertukaran keuangan, ketidaksukaan, hubungan seksual, atau hubungan kepercayaan, pengetahuan atau prestise.


Jaringan Sosial
Analisis jaringan sosial memandang hubungan sosial dari segi teori jaringan yang terdiri dari node dan ikatan (disebut juga link atau koneksi). Node adalah pelaku individual dalam jaringan, dan ikatan adalah hubungan antara para pelaku. Struktur berbasis grafik yang dihasilkan seringkali sangat kompleks. Bisa jadi banyak jenis ikatan antara node. Penelitian di berbagai bidang akademik menunjukkan bahwa jaringan sosial beroperasi pada banyak tingkatan, dari keluarga sampai ke tingkat negara-negara, dan memainkan peran penting dalam menentukan caranya masalah-masalah dipecahkan, organisasi-organisasi dijalankan, dan sejauh mana individu-individu berhasil dalam mencapai tujuan mereka.

Dalam bentuk yang paling sederhana, jaringan sosial adalah peta ikatan-ikatan tertentu, seperti persahabatan, antara node-node yang sedang dipelajari. Node yang secara individu dengan demikian dihubungkan kontak sosial dari individu tersebut. Jaringan dapat juga digunakan untuk mengukur modal sosial - nilai yang didapatkan seseorang dari jaringan sosial. Konsep-konsep ini sering ditampilkan dalam diagram jaringan sosial, dimana node adalah poin dan ikatan adalah baris.

Bentuk jaringan sosial membantu menentukan kegunaan jaringan untuk individu tersebut. Yang lebih kecil, jaringan lebih ketat bisa kurang bermanfaat bagi anggota-anggota mereka daripada jaringan dengan banyak koneksi bebas (ikatan lemah) untuk individu di luar jaringan utama. Jaringan yang lebih terbuka, dengan banyak ikatan lemah dan koneksi sosial, lebih mungkin untuk memperkenalkan ide-ide baru dan peluang untuk anggota-anggota mereka daripada jaringan tertutup dengan banyak ikatan berlebihan. Dengan kata lain, sekelompok teman yang hanya melakukan hal-hal satu sama lain sudah berbagi pengetahuan dan peluang yang sama. Sekelompok individu dengan koneksi ke dunia sosial lainnya cenderung memiliki akses ke informasi yang lebih luas. Ini lebih baik bagi keberhasilan individu untuk memiliki koneksi ke berbagai jaringan daripada banyak koneksi dalam jaringan tunggal. Demikian pula, individu dapat mempengaruhi atau bertindak sebagai perantara dalam jaringan sosial mereka dengan menjembatani dua jaringan yang tidak terkait secara langsung (disebut mengisi lubang struktural).

Difusi Informasi adalah proses dimana ide baru atau tindakan secara luas menyebar melalui saluran komunikasi. Tingkat tumpang tindih jaringan persahabatan dua individu bervariasi secara langsung dengan kekuatan ikatan mereka satu sama lain. Dampak dari prinsip ini pada difusi pengaruh dan informasi, kesempatan mobilitas, dan organisasi masyarakat yang dieksplorasi. Mark S. Granovetter dalam makalahnya berjudul “The Strength of Weak Ties” meletakkan penekanan pada kekuatan kohesif ikatan lemah. Ikatan lemah merujuk kepada interaksi antara sekelompok jaringan dan sangat penting untuk bagaimana informasi mengalir dalam jaringan. Selain itu, mereka hanya ikatan lemah dengan respek ke jaringan, bukan untuk orang-orang di dalamnya.

Dalam hal ini, Brian Solis menjelaskan dalam postingannya berjudul “Malcolm Gladwell, Your Slip is Showing” bahwa jika persatuan adalah efek, kerapatan adalah penyebabnya. Ide-ide menyebar lebih cepat dalam jaringan sosial yang terhubung dengan rapat. Tetapi untuk mencapai kerapatan, ikatan harus dibentuk tanpa kekuatan atau berumur panjang dengan cepat di seputar misi atau tujuan bersama. Kerapatan tidak bisa dicapai jika jaringan tidak bisa menyediakan sumber daya yang diperlukan. Artinya, potensi untuk aktivasi ada dalam Facebook dan Twitter itu sendiri. Di samping jaringan sosial, pemicu untuk aktivitas sosial adalah tidak diragukan dibangun-di dalam Internet. Jadi alat-alat yang meningkatkan kerapatan koneksi sosial adalah instrumental untuk mengubah penyebaran itu.

Pada awal 2010, tim peneliti dari Departemen Ilmu Komputer di Korea Advanced Institute of Science and Technology melakukan analisis multi-bagian dari Twitter melalui 41,7 juta profil pengguna; 1,47 miliar hubungan sosial; 4, 262 topik tren, dan 106 juta tweet. Dalam kesimpulan mereka menemukan bahwa jaringan saling terhubung secara mengejutkan dan sebuah cara efektif untuk menyaring informasi yang berkualitas. Twitter adalah cara yang sangat efektif untuk menyaring dan menyebarkan informasi yang relevan. Yaitu fusi cepat dari perikatan dalam jaringan berpopulasi padat untuk mengaktifkan kerapatan yang diperlukan untuk memicu efek jaringan.

"Tidak peduli berapa banyak pengikut pengguna yang dimiliki, tweet memungkinkan untuk menjangkau (khalayak ukuran tertentu) setelah tweet pengguna mulai menyebar melalui re-tweet," kata Haewoon Kwak, salah satu peneliti. Artinya, mekanisme re-tweet telah memberikan setiap pengguna kekuatan untuk menyebarkan informasi secara luas. Pengguna secara individual memiliki kekuatan untuk mendikte informasi mana yang penting dan harus disebarkan melalui re-tweet. “Inilah caranya kita menyaksikan munculnya kecerdasan kolektif," ujarnya.

Tim peneliti menggunakan trending insiden naas penerbangan Air France 477 untuk memvisualisasikan kepadatan dan distribusi, seperti terlihat di pohon tweet berikut ini:




Ini merupakan demonstrasi seberapa kuat, lemah, dan sementara ikatan-ikatan terhubung untuk sementara waktu untuk memastikan bahwa dunia bersatu di seputar berita buruk ini. Saya yakin kita akan melihat peta serupa jika kita menganalisis peristiwa Iran dan Mesir, di mana Twitter memainkan peran sangat penting dalam penyatuan (unifikasi) dan penyebaran,”kata Solis.

Namun, penggunaan alat media sosial seperti pesan teks, e-mail, photo sharing, jaringan sosial, dan sejenisnya tidak memiliki hasil yang ditakdirkan tunggal. Dalam profesinya sebagai pakar media sosial, Solis menemukan bahwa dibutuhkan suatu kejadian yang luar biasa untuk mengaktifkan kerapatan di jaringan yang kuat, namun luas dan kacau. Tapi, itu mungkin, dan untuk berbagai tingkatan, hal itu terjadi setiap hari. Dalam hal dimana perencanaan dan desain seputar aksi dan hasil yang diatur, hasilnya terbukti sangat menjanjikan dan dapat ditiru.

Di Indonesia, kekuatan jaringan sosial terbukti ampuh dalam menggerakkan massa untuk mengumpulkan koin untuk membantu Prita Mulyasari melawan RS Omni International Alam Sutera pada Desember 2009. “Gerakan Koin Untuk Keadilan” ini mampu meraup koin senilai lebih dari Rp 655 juta! Sebuah gerakan yang dirancang oleh sekelompok orang dengan tujuan jelas: membantu Prita melawan ketidakadilan, dengan mengusung isu rasa solidaritas masyarakat melalui berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan Blog.

Masyarakat Sipil dan Ruang Publik

Clay Shirky, seorang profesor Media Baru di New York University menulis dalam postingannya berjudul “The Political Power of Social Media”, potensi sebenarnya media sosial terletak dalam mendukung masyarakat sipil dan ruang publik, yang akan menghasilkan perubahan selama bertahun-tahun dan dekade, bukan minggu atau bulan. Di sini, media sosial berperan sebagai alat jangka panjang yang dapat memperkuat masyarakat sipil dan ruang publik.

Peluang itu ada karena, seperti dikatakan Solis, media sosial merepresentasikan demokratisasi informasi dan pemerataan pengaruh. Di situlah letak baik tantangan dan peluang bagi individu, perusahaan atau organisasi. Saat ini, siapapun bisa membuat, menerbitkan, dan mendistibusikan ide-ide, pandangan, berita, dan informasi. Konten bisa berkeliling ke seluruh dunia melalui berbagai saluran dan orang-orang yang terhubung, lebih cepat daripada waktu yang Anda butuhkan untuk membaca kalimat ini.

Tak heran bila keberadaan media sosial telah meningkatkan partisipasi politik masyarakat, terutama kaum muda. Laporan Pew Internet Project menemukan bahwa jaringan sosial dapat mendorong anak-anak muda untuk terlibat dalam politik. Keterlibatan politik secara online seperti menghubungi para pejabat, menandatangani petisi dan menghimpun donasi meningkat di kalangan orang-orang Amerika Serikat yang lebih kaya dan berpendidikan lebih baik. Meski keterlibatan masyarakat masih berada di kalangan menengah, Internet berkontribusi nyata untuk mendemokratisasikan keterlibatan politik.

Kebebasan politik harus disertai dengan masyarakat sipil yang melek huruf dan cukup berhubungan rapat untuk membahas isu-isu yang disajikan kepada publik. Dalam sebuah studi jajak pendapat politik yang terkenal setelah pemilu presiden AS 1948, sosiolog Elihu Katz dan Paul Lazarsfeld menemukan bahwa media massa sendiri tidak mengubah pikiran orang, kecuali ada proses dua langkah. Pendapat pertama dikirimkan oleh media, dan kemudian dikumandangkan oleh teman-teman, anggota keluarga, dan rekan-rekan. Yang kedua, langkah sosial bahwa pendapat politik dibentuk. Ini adalah langkah di mana Internet pada umumnya, dan media sosial khususnya, bisa membuat perbedaan. Seperti mesin cetak, Internet menyebar tidak hanya konsumsi-konsumsi media, namun produksi media juga - memungkinkan orang untuk secara pribadi dan publik mengartikulasikan dan memperdebatkan campuran pandangan yang bertentangan.

Sebuah ruang publik yang berkembang perlahan-lahan, di mana opini publik bergantung pada media dan percakapan, merupakan inti dari pandangan lingkungan kebebasan Internet. Pandangan lingkungan mengasumsikan bahwa perubahan politik yang kecil terjadi tanpa diseminasi dan adopsi ide-ide dan pendapat di ruang publik. Akses terhadap informasi jauh kurang penting, secara politik, daripada akses ke percakapan. Selain itu, ruang publik lebih mungkin muncul di masyarakat sebagai akibat dari ketidakpuasan masyarakat terhadap persoalan ekonomi atau pemerintahan sehari-hari daripada jangkauan cita-cita politik abstrak mereka.

Kondisi tersebut mendorong munculnya kemampuan koordinasi yang disebut "berbagi kesadaran", kemampuan setiap anggota kelompok untuk tidak hanya memahami situasi yang dihadapi tetapi juga memahami bahwa orang lain melakukannya juga. Media sosial meningkatkan kesadaran bersama dengan menyebarkan pesan melalui jaringan sosial. Protes anti-Aznar di Spanyol memperoleh momentum begitu cepat justru karena jutaan orang menyebarkan pesan yang bukan bagian dari organisasi hirarkis.

Protes anti korupsi Cina yang pecah pasca gempa bumi dahsyat di Sichuan pada Mei 2008 adalah contoh lain. Para demonstran adalah para orang tua, terutama ibu-ibu, yang telah kehilangan anak satu-satunya pada peristiwa runtuhnya sekolah-sekolah yang dibangun dengan buruk, hasil kolusi antara perusahaan konstruksi dan pemerintah setempat. Sebelum gempa, korupsi di industri konstruksi di negara itu merupakan rahasia umum. Namun ketika sekolah runtuh, warga mulai berbagi dokumentasi kerusakan dan protes mereka melalui alat media sosial. Konsekuensi dari korupsi pemerintah dibuat terlihat secara luas, dan melampaui fase dari sebuah rahasia umum ke sebuah kebenaran umum.

Pada akhirnya gerakan-gerakan protes terbaru menggunakan media sosial bukan sebagai pengganti tindakan di dunia nyata tetapi sebagai cara untuk mengkoordinasikannya. Penerapan alat-alat ini (terutama telepon seluler) sebagai cara untuk mengkoordinasikan dan mendokumentasikan aksi-aksi di dunia-nyata sehingga ada di mana-mana yang akan memungkinkan menjadi bagian dari semua gerakan politik masa depan.

Nah, bagaimana dengan Anda, khususnya kaum muda di Indonesia dalam menggunakan kekuatan jaringan sosial untuk perubahan politik ke depan?



Sunday, April 17, 2011

Media Sosial untuk Perubahan Sosial: Politik dan Ekonomi





Kebebasan tidak lain adalah sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik ~ Albert Camus

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Seperti Facebook, Twitter, YouTube, MySpace, Blog, dan sebagainya. Sebuah terobosan dahsyat di bidang teknologi komunikasi atau lebih dikenal teknologi Web 2.0 (baca two-point-o). Memungkinkan kita untuk terhubung dengan orang-orang; berbagi minat dan ide, foto-foto, video dan menyebarkan informasi dengan cepat, langsung dan tanpa batas.

Selama kurang dari sepuluh tahun terakhir, teknologi sosialisasi Web atau dikenal teknologi sosial ini telah merelovusi cara kita berkomunikasi dan berkolaborasi secara online. Setiap hari, lebih dari 175 juta orang log in ke Facebook. YouTube menerima lebih dari 2 miliar pemirsa setiap hari, dengan video di-upload ke YouTube per menit oleh pemirsa. Setiap detik, lebih dari 600 tweet di-update ke Web untuk khalayak di seluruh dunia. Dan angka-angka tersebut tumbuh secara ekponen. Baca laporan selengkapnya di “Inilah Fakta Menakjubkan Media Sosial 2010.”

Menurut Brian Solis, media sosial merepresentasikan demokratisasi informasi dan pemerataan pengaruh. Di situlah letak baik tantangan dan peluang bagi individu, perusahaan atau organisasi. Saat ini, siapapun bisa membuat, menerbitkan, dan mendistibusikan ide-ide, pandangan, berita, dan informasi. Konten bisa berkelilng ke seluruh dunia melalui berbagai saluran dan orang-orang yang terhubung, lebih cepat daripada waktu yang Anda butuhkan untuk membaca kalimat ini.

Saat ini kekuatan teknologi sosial, ketika terlibat secara penuh, dapat menjadi semacam revolusi. Bergabungnya kekuatan-kekuatan dapat menyediakan individu-individu, kelompok dan korporasi ke dalam wawasan teknologi sosial, peralatan untuk memacu penyebaran ide-ide, dan kemampuan untuk mendorong/menghasut tindakan yang cepat menular. 

Salah satu atribut penting dari komunikasi real time pada umumnya dan media sosial khususnya adalah mudah diakses dalam membuat penyebaran informasi massal untuk orang-orang biasa. Seperti ditulis Greg di postingannya berjudul “Why The Web Wins, Web dirancang dengan dua atribut dasar yaitu: konektivitas dan universalitas, keduanya menyediakan diri untuk gerakan-gerakan politik organik.

Sebagai contoh, meski bukan sebagai penyebab dasar, media sosial memiliki peran penting dalam revolusi di Tunisia dan Mesir belum lama ini. Khususnya dalam menyebarkan kata-kata dan dalam membantu para organisator merencanakan protes mereka. Di Mesir, para aktivis dan kubu posisi mudah memobilisasi massa dan mengkoordinasikan gerakan unjuk rasa melalui Facebook dan Twitter. Jaringan sosial itu bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar di seluruh dunia melalui YouTube dan Blog. Dengan sangat cepat ratusan ribu kaum muda di negeri Piramida itu mengakses grup-grup yang ada di media sosial tersebut. 

Di bidang kemanusiaan, hanya pada tahun ini, Palang Merah Internasional (Red Cross) mengumpulkan lebih dari 40 juta dollar US untuk membantu bencana gempa di Haiti melalui donasi pesan teks. Teknologi sama yang biasa kita gunakan untuk mem-“poke” teman-teman kita atau retweet artikel menarik ini merupakan satu-satunya yang dapat menghubungkan dan memobilisasi kita untuk membawa perubahan. 

Peristiwa-peristiwa tersebut telah memberikan definisi baru untuk revolusi, menunjukkan kepada kita betapa banyak daya yang bisa dimanfaatkan di ujung jari kita. Dari sini kita mulai memahami bagaimana teknologi sosial dapat secara fundamental menggeser bagaimana kita terlibat dengan dan menginspirasi semua orang yang berjejaring dan memberdayakan mereka untuk berpartisipasi dalam sebuah gerakan perubahan secara global. 

Tindakan Kecil Menciptakan Perubahan Besar

Jadi, jika kita tahu maha daya media sosial, lantas apa yang membedakan orang-orang yang menggunakan media sosial untuk sesuatu yang lebih berkekuatan daripada hanya untuk bersenang-senang atau bermalas-malasan?

Clay Shirky, seorang professor Media Baru di Universitas New York, AS dalam postingannya di Foreign Affarirs berjudul “The Political Power of Social Media” mengatakan media baru kondusif untuk mendorong partisipasi dan bisa meningkatkan kebebasan. Hanya, salah satu yang perlu disayangkan tentang ide media baru sebagai kekuatan politik adalah bahwa kebanyakan orang hanya menggunakan alat-alat ini untuk perdagangan, kehidupan sosial, atau gangguan-diri. 

Jika kita menggunakan kesempatan itu untuk perubahan sosial, jenis perbedaan apa dapat kita buat? Berapa banyak orang dapat kita libatkan? Pengaruh apa dapat kita miliki secara individu, korporasi atau dunia? Ini saatnya bagi kita untuk mempergunakan kekuatan media sosial untuk kebaikan sosial.

Jennifer Aaker dan Andy Smith dalam bukunya berjudul “The Dragonfly Effect: Quick, Effective, and Powerful Ways to Use Social Media to Drive Social Change” menganalogikan bagaimana kita menggunakan kekuatan media sosial untuk menghasilkan sebuah dampak dengan kalimat: tindakan kecil menciptakan perubahan besar. Dengan mencontoh gerakan capung, seekor serangga yang dapat menggerakkan dirinya sendiri ke segala arah – dengan kecepatan dan kekuatan yang dahsyat – ketika empat sayapnya sedang berkepak. Makhluk kuno, eksotis dan tidak berbahaya ini mengilhami pentingnya upaya-upaya terintegrasi. Hal ini juga mempertunjukkan bahwa tindakan kecil dapat menghasilkan gerakan-gerakan besar. 

Tanpa menghiraukan perubahan yang Anda cari untuk pengaruh di komunitas, negara dan bahkan dunia – apakah untuk menginpirasi orang lain untuk bergabung dengan gerakan sosial Anda, memobilisasi perubahan politik, atau hanya memenuhi kebutuhan individu – pertimbangkan untuk menggerakkan penyebab/alasan Anda dari kesadaran ke tindakan.

Berlawanan apa yang mungkin Anda pikirkan, mempromosikan tujuan pribadi (personal) adalah tak terpisahkan secara sosial. Untuk menjadi sukses, Anda harus menterjemahkan gairah Anda ke dalam cerita yang sangat kuat dan menyatakannya dalam cara yang membangkitkan “energi menular”, sehingga khalayak Anda tercermin pada update Facebook, tweet, postingan blog, atau email Anda. Dengan melakukan hal itu, Anda menghasilkan partisipasi, jaringan, pertumbuhan, dan efek reaksi – kekuatan yang mengkombinasikan untuk membentuk gerakan dimana orang-orang merasakan mereka menjadi bagian. Tujuan pribadi Anda kemudian menjadi kolektif.

Efek Capung mengikat kita ke orang lain, untuk komunitas yang lebih besar, dan untuk alasan-alasan sosial. Benar-benar tidak ada cara yang lebih baik untuk memperkuat koneksi antara diri kita sendiri dengan ruang lingkup kita, memenuhi kebutuhan psikologi dan emosial kita, dan, di atas segalanya, menciptakan makna dalam hidup kita dari dengan membudidayakan kebaikan sosial.

Kerapatan Jaringan

Solis dalam sebuah postingan brilliant tentang peran media sosial dalam revolusi, menyoroti kerapatan jaringan (ikatan yang dibuat antara orang-orang) sebagai faktor penentu dalam peristiwa di Mesir. Maksudnya bahwa media sosial, dengan memfasilitasi koneksi, membangun kerapatan jaringan, sehingga mengurangi jarak sosial dan memungkinkan tindakan.

“(R)evolusi informasi terkini ini yang sedang kita alami di berbagai belahan dunia secara global bukan mengenai teknologinya itu sendiri, tetapi lebih tentang sosiologi dan bagaimana mengubah perilaku kita dan masyarakat sebagai hasilnya,” kata Solis.

Jika persatuan adalah efek, kerapatan adalah penyebabnya. Tetapi untuk mencapai kerapatan, ikatan harus dibentuk dengan cepat tanpa kekuatan atau berumur panjang di seputar misi atau tujuan bersama. Kerapatan tidak bisa dicapai jika jaringan tidak bisa menyediakan sumber daya yang diperlukan. Jadi, potensi untuk aktivasi ada di dalam jaringan sosial itu sendiri seperti Facebook, Twitter, YouTube, Blog, dan lain-lain. Di samping jaringan sosial, pemicu untuk aktivitas sosial tidak diragukan dibangun-di dalam Internet.

Sebagaimana arena komunikasi menjadi lebih padat, lebih kompleks, dan lebih partisipatif, populasi jaringan mendapat akses yang lebih besar ke informasi, lebih banyak peluang untuk terlibat dalam pidato-pidato publik dan kemampuan ditingkatkan untuk melakukan tindakan kolektif. Gelombang gerakan gaya Tunisia dan Mesir demikian halnya.

Dalam kaitan ini, Shirky berpendapat jaringan digital telah bertindak sebagai sebuah kejutan yang menawarkan kepositifan secara besar-besaran pada biaya dan penyebaran informasi, untuk kemudahan dan menyusun pidato publik oleh warga, dan untuk kecepatan dan skala koordinasi kelompok. Memungkinkan kelompok-kelompok berkomitmen untuk bermain dengan aturan baru tanpa perlu izin dari negara atau bantuan dari media penyiaran dan berarti bahwa perilaku kelompok dapat disinkronkan dengan cepat, murah dan memasyarakat dengan cara-cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pada awal 2010, tim peneliti di Departemen Ilmu Komputer di Korea Advanced Institute of Science and Technology melakukan analisis multi-bagian dari Twitter. Dalam kesimpulan mereka menemukan bahwa Twitter adalah cara yang sangat efektif untuk menyaring dan menyebarkan informasi yang relevan. Hal itu merupakan fusi cepat perikatan dalam jaringan berpopulasi padat untuk mengaktifkan kerapatan yang diperlukan untuk memicu efek jaringan.

Tim peneliti menggunakan insiden penerbangan Air France untuk memvisualisasikan kepadatan dan distribusi, berikut ini:




Bagaimanapun penggunaan alat media sosial seperti pesan teks, e-mail, photo sharing, jaringan sosial, dan sejenisnya tidak memiliki hasil yang ditakdirkan tunggal. Dibutuhkan suatu kejadian yang luar biasa untuk mengaktifkan kerapatan di jaringan yang kuat, namun luas dan kacau. Tapi, itu adalah mungkin, dan untuk berbagai tingkatan, itu terjadi setiap hari. Dalam hal dimana perencanaan dan desain seputar aksi dan hasil yang diatur, hasilnya terbukti sangat menjanjikan dan dapat ditiru.

Fakta dan Potensi di Indonesia

Seperti dikemukakan oleh beberapa pengamat, faktor-faktor pendorong utama gerakan revolusi di Mesir dan Tunisia lebih disebabkan adanya sejumlah persoalan sama selama puluhan tahun yaitu penindasan oleh rezim otoriter, korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Lalu, mengapa begitu banyak orang ingin percaya bahwa media sosial dapat memulai revolusi demokrasi baru? Apa arus sosiologis lebih mendasari keyakinan tersebut?

Mark A. Shields, seorang sosiolog dan pengajar di Departemen Ilmu Humaniora dan Sosial, Universitas Isik di postingannya berjudul “Social Media and Political Revolutions: Fact and Fiction” menjelaskan, di masyarakat seperti Tunisia dan Mesir, di mana sebanyak 50 persen penduduknya berusia di bawah 25 tahun, dapat diprediksi sepenuhnya untuk melihat protes yang dipimpin oleh para aktivis kaum muda, terdidik, melek Internet (dan menganggur). Sosial media sekarang ujung terkemuka di Internet. Bagaimana harus membebaskannya untuk menemukan bahwa tweet dan postingan Facebook dapat mengisi bahan bakar aspirasi demokrasi dan bukan hanya mengisi ruang kosong kehidupan sehari-hari.

Kalau diperbandingan dengan Indonesia, persoalan-persoalan pokok yang dihadapi tak jauh beda. Demokrasi yang dikuasai elit, korupsi, pengangguran, kemiskinan, penegakan hukum, dan buruknya moral para pemimpin bangsa telah menjadi PR bagi kita semua pada umumnya dan para kaum muda pada khususnya untuk melakukan tindakan menuju perubahan sosial. 

Seperti Hinh Tran menulis di Berkeley Political Review, sementara teknologi saja tidak dapat menyebabkan jatuhnya pemerintah, hal ini jelas dapat membantu mengkatalisasi pelajar-pelajar idealis, para intelektual dan penduduk yang marah, tertindas ke tindakan yang memungkinkan mereka untuk mengorganisir dan bertukar pikiran secara online.

Dengan mempertimbangkan penetrasi jumlah pengguna Internet di Indonesia terus meningkat. Data Internet World Stats menyebutkan, pada 2009, Indonesia menduduki peringkat kelima negara pengguna Internet terbesar di Asia setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Total pengguna internet di Indonesia hingga 30 Juni 2010 mencapai 30.000.000, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,400 persen selama sepuluh tahun terakhir.

Selain itu, Facebook secara resmi mengumumkan bahwa mereka memiliki lebih dari 500 juta pengguna di dunia pada Juli 2010 lalu. Menurut laporan tersebut, Indonesia adalah negara dengan pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Posisi Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan total jumlah pengguna sebanyak 25,9 juta. Sedangkan AS menempati urutan pertama dengan jumlah pengguna mencapai 125,8 juta, dan disusul Inggris dengan jumlah pengguna 26,5 juta. Dan jumlah ini hanya terus meningkat secara keseluruhan. Baca selengkapnya di “Indonesia, Negara Pengguna Facebook Terbesar Ketiga di Dunia.” 


Ini adalah sebuah pergeseran budaya dan sebuah kejutan budaya. Pada akhirnya, senjata yang sebenarnya adalah kekuatan komunikasi berjejaring itu sendiri. Mereka yang merangkul peran sebagai pelajar di masa-masa ini akan mendapatkan kemampuan untuk memimpin kita menuju era baru dari solidaritas.

Mengutip kata-kata Bung Karno: 

Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

Terima Kasih Facebook